Mengenai Saya

Foto saya
Cinta dunia otomotif khususnya roda 2 dan fokus dalam kampanye keselamatan berkendara (safety riding)

Jumat, 23 Desember 2011

Yuk, Kita Belajar Rambu Lalu Lintas : Rambu Peringatan (3)

Marilah Bro and Sis, teman-temanku, saudara-saudaraku kita belajar mengenal rambu-rambu lalu lintas lagi. Kita masih lanjutkan tulisan gue yang lalu.

Rambu penyempitan jalan :
penyempitan di kiri dan kanan jalan
penyempitan di kiri jalan
penyempitan di kanan jalan
jembatan/penyempitan di jembatan

Rambu pengurangan lajur :
pengurangan lajur kiri
pengurangan lajur kanan
Ok, cukup sekian dulu Bro dan Sis. Kita lanjutkan lagi besok... :)

Kamis, 22 Desember 2011

Jangan Salah Pilih Visor Helm

Helm adalah piranti keselamatan paling pokok yang dibutuhkan dalam berkendara. Memilih helm tidak boleh asal-asalan dan sembarangan. Ibarat memilih jodoh atau pasangan hidup maka kita harus melihat "bobot, bibit dan bebet"-nya. 
Jenis visor helm
Setelah kita bisa memilih mana helm yang terbaik maka kita jangan sampai melupakan fungsi dari visor (kaca) helm. Jangan sampai kita salah tempat dalam memilih visor (kaca) helm. Kaca (visor) helm secara garis besar terdiri dari 2 jenis, yaitu bening (clear) dan gelap (smoke).
Bagi pengendara yang sering riding waktu gelap atau dalam musim hujan seperti sekarang ini hendaknya memilih visor helm tipe clear. Hal ini demi safety, dengan pemakaian visor helm yang gelap maka pandangan mata kita menjadi berkurang. Apalagi tipe visor yang cenderung sangat gelap misalnya warna hitam atau smoke motif pelangi bakal mengurangi jarak pandang kita menjadi lebih pendek dan jadi kurang jelas karena terlalu gelap. Lain hal jika kita sering riding pada siang hari terutama pada saat cuaca terik maka mata kita butuh perlindungan dari sinar UV matahari yang menyilaukan agar berkendara lebih nyaman dan pandangan kita tidak terganggu diperlukan visor yang lebih gelap.
Helm MDS Sparta milikku memiliki visor asli yang bertipe smoke motif rainbow (pelangi). Hal ini sangat mengganggu jarak pandang dan kenyamanan gue selama riding karena gue berkacamata minus. Apalagi kalau gue sering riding di waktu gelap atau musim hujan seperti ini bakal sangat mengganggu kenyamanan dan jarak pandang gue. Daripada membahayakan keselamatan baik diri sendiri maupun orang lain maka gue berinisiatif mengganti dengan visor helm tipe clear yang berwarna putih bening. Gue beli 1set lengkap beserta  rachet/pivot plate (dudukan kaca) dengan harga 35ribu aja sudah termasuk ongkos pasang. Visor dijual beserta rachet karena ternyata dudukan kaca asli berbeda dengan versi aftermarket jadi harus beli 1set. Lubang baut untuk rachet (dudukan kaca) sama persis jadi tinggal ganti, gak perlu buat lubang baru.
visor clear MDS Sparta 1set beserta rachet cuma 35ribu aja

Nich gambar ilustrasi helm gue saat masih memakai visor helm yang asli :

Berikut ini foto helm gue yang sudah diganti dengan visor tipe clear :
Jadi kita harus utamakan fungsi dari visor helm demi safety, jangan sampai cuma ingin gaya kita salah pilih visor helm.

Rabu, 21 Desember 2011

Yuk, Kita Belajar Rambu Lalu Lintas : Rambu Peringatan (2)

Mari kita lanjut belajar bersama rambu lalu lintas, masih tentang rambu peringatan melanjutkan tulisan gue terdahulu, yuk ya yuk...

Rambu Turunan :
turunan
turunan curam


Rambu Tanjakan :
tanjakan
tanjakan terjal
Udah paham, Bro dan Sis? Kita belajar sedikit-sedikit aja, yang penting jadi paham...
Betul,,,betul,,,betul,,,, betul aja dach  ;-)

Selasa, 20 Desember 2011

Yuk, Kita Belajar Rambu Lalu Lintas : Rambu Peringatan (1)

Sebagai pengguna jalan, khususnya kendaraan bermotor pastilah kita wajib mematuhi peraturan lalu lintas. Salah satu aturan yang harus dipatuhi adalah rambu-rambu lalu lintas yang dibuat sebagai alat bantu pengguna jalan. Rambu-rambu lalu lintas dapat berupa larangan, peringatan maupun petunjuk.
Sebagai pengguna jalan terutama kendaraan bermotor baik roda 4 maupun roda 2 perlu memahami arti dari rambu lalu lintas yang terpasang di pinggir jalan. Banyak pengemudi maupun pengendara yang hanya sekadar bisa mengemudi maupun berkendara tapi tak bisa baca arti rambu lalu lintas.

Kali ini kita akan belajar bersama-sama secara bertahap, kita mulai dengan contoh rambu yang menunjukkan peringatan suatu bahaya.

Rambu Tikungan Biasa:

tikungan ke kanan
tikungan ke kiri

Rambu Tikungan Tajam :
tikungan tajam ke kiri
tikungan tajam ke kanan

Rambu Tikungan Ganda :
tikungan ganda, tikungan pertama ke kiri
tikungan ganda, tikungan pertama ke kanan

Rambu Banyak Tikungan :
banyak tikungan, tikungan pertama ke kiri
banyak tikungan, tikungan pertama ke kanan

Rambu Pengarah Tikungan :
pengarah tikungan ke kanan
pengarah tikungan ke kiri
Ok, Bro dan Sis cukup segini dulu...besok dilanjut lagi...

Sabtu, 17 Desember 2011

Siap Gadaikan Nyawa Demi Lawan Arus?

Kondisi jalanan di Indonesia makin tak bersahabat bagi rakyat bikers. Sarana prasarana pendukung jalan banyak yang kurang maksimal baik secara fungsi maupun kuantitasnya. Hal ini diperparah dengan makin buruknya kelakuan para pengguna jalan khususnya bikers dalam berlalu lintas di jalan raya. Kesadaran para pengguna jalan dalam berlalu lintas makin hari makin buruk. Tidak adanya sanksi yang tegas dalam penegakan hukum merupakan salah satu hal yang paling pokok terjadi dewasa ini. Para hamba wet yang harusnya menjadi teladan dalam berlalu lintas pun makin minim dalam memberikan contoh dan ajakan berlalu lintas yang baik. Bahkan ada beberapa oknum yang memberikan contoh tidak baik di jalan raya.
Oknum hamba wet harusnya beri contoh yang baik malah ikut lawan arus
Budaya melanggar jadi hal lumrah dan jamak dilakukan
 Pelanggaran lalu lintas kini menjadi hal yang umum dan jamak dilakukan oleh pengguna jalan khususnya para bikers. Tidak adanya tindakan tegas dan contoh yang baik menjadikan budaya melanggar peraturan lalu lintas maupun tidak sadar akan keselamatan diri sendiri bahkan keselamatan pengguna jalan lain menjadi hal yang lumrah, baik dan halal untuk dibudayakan.
Salah satu budaya yang tidak layak untuk dilestarikan bahkan wajib untuk ditinggalkan adalah budaya melawan arus. Meski kelihatan sepele dan umum dilakukan kebanyakan orang, bahkan gue pribadi dulu sering melakukan sangatlah tidak disarankan. Kondisi jalan raya yang makin macet menjadikan banyak jalan yang dibuat marka pembatas bagi 2 jalur berlawanan demi meminimalkan resiko macet dan kecelakaan. Namun apa mau dikata, pembatasan jalur berlawanan dengan membuat marka yang semula dibuat demi kebaikan malah diabaikan. Banyak pemakai jalan terutama pengguna kendaraan roda 2 malas untuk menggunakan jalur persimpangan untuk putar balik sesuai arah jalur yang telah ditentukan. Para pelanggar malah lebih memilih melawan arus lewat bahu jalan daripada harus mengikuti jalur putar balik yang telah ditentukan. Mereka berdalih dan beralasan biar lebih praktis, lebih simpel dan lebih dekat, bahkan ada yang beralasan agar lebih cepat. Wuitt, tunggu dulu...lebih praktis, simpel, dekat dan lebih cepat dari mana? dari Hongkong...? Atau jangan-jangan biar lebih praktis, simpel, dekat dan lebih cepat masuk rumah sakit atau alam kubur, hahaha...just kidding moga-moga gak... 
Udah lawan arus, boncenger gak pake helm, rider pake helm gak di-"klik"

Teori tersebut rasanya bagi masyarakat yang cuma berpikir pendek mungkin benar adanya, namun jika dipikir panjang bahkan coba dipraktikkan dan dibandingkan di jalan, nyatanya salah. Gue dulu sebelum tau akan pentingnya keselamatan berkendara di jalan raya juga sering berpikir pendek seperti itu. Gue mikir kalau ikuti jalur putar balik harus jalan agak jauh, bisa lebih lama. Oh, nyatanya persepsi gue tersebut salah besar. Setelah coba gue bandingkan lewat jalur putar balik sesuai aturan dan melanggar aturan dengan lawan arus lewat bahu jalan cuma beda tipis waktunya, gak lebih dari 1 menit Bro dan Sis! Bahkan kadang lewat jalur putar balik bisa lebih cepat waktunya. Secara teknis pun apabila kondisi lalu lintas cenderung ramai, padat bahkan macet akan lebih efektif dan efisien mengikuti arus putar balik. Lewat bahu jalan dengan melawan arus dalam kondisi lalu lintas ramai bahkan padat dan macet sangat susah dilakukan. Bahkan tidak jarang kendaraan kita bakal stagnan atau gak bisa jalan. Belum lagi ditambah resiko yang sangat besar bila melawan arus terutama dalam kondisi jalan ramai, padat dan macet. Resiko tabrakan "adu kambing" yang berakibat sangat fatal bagi keselamatan jiwa pun "mengintai" di depan mata.
Siap gadaikan nyawa? Tabrakan "adu kambing" mengintai
Lawan arus menambah kemacetan dan resiko kecelakaan
Mobil pribadi gak mau kalah lawan arus
Sepeda onthel pun dengan "PD"-nya melawan arus
Celaka akibat lawan arus
Nyawa melayang sia-sia demi selisih waktu tak seberapa
 Jadi, buat apa kita "menggadaikan" jiwa kita hanya demi selisih waktu yang tidak seberapa itu...??? Always keep safety riding Bro and Sis...Semoga Allah selalu melindungi orang-orang yang taat berlalu lintas, Amin.
Larangan cuma buat rakyat Bikers? Yang lain mana???

Jumat, 16 Desember 2011

Si "Irit Lincah Gaya," Suzuki NEX...

Akhirnya, 15 Desember 2011 di Hotel Mercure Ancol Taman Impian Jaya Ancol, PT.Suzuki Indomobil Motor (SIM) resmi merilis skutik terbaru mereka. Tidak seperti para pendahulunya, seperti Skywave, Spin, Skydrive maupun Hayate yang dibekali mesin 125cc, kini "gacoan" matic baru PT.SIM mengusung mesin 113cc. Secara spesifikasi tidak terlalu jauh berbeda dengan kompetitor. Bahkan kini skutik yang dikasih nama Nex tersebut juga mengadopsi desain bodi yang mungil layaknya kompetitor. Padahal sejak awal kemunculannya, setiap produk Suzuki pastilah didesain memiliki bodi yang lebih "gambot" daripada kompetitor.
Suzuki Nex "gandeng" SMASH demi dongkrak popularitas
Mungkin inilah strategi PT.SIM demi mendongkrak kejayaan Suzuki yang sejak New Shogun 110cc discontinue seperti tenggelam tak "bertaring" lagi. Suzuki Nex memang sejak awal diprediksi bakal dibenturkan oleh Yamaha Mio dan Honda Beat yang saat ini masih merajai penjualan skutik low-end. Desain bodi Nex didesain mungil layaknya Beat maupun Mio. Sekilas secara keseluruhan malah mirip Honda Beat. Namun apabila dilihat secara per-bagian, menurut gue pribadi area depan mirip Mio dengan sentuhan headlamp layaknya Kawasaki ZX 130 dengan lampu sein mirip Axelo. Area stang bercover layaknya Skydrive atau Hayate. Sedangkan area belakang mirip Spin, terutama desain stoplamp.
Suzuki mengklaim Nex lebih irit dibanding Beat dan lebih powerfull dibandingkan Mio. Berbanderol 12,35juta (OTR Jakarta, versi Cast Wheel) skutik ini dijual dengan 6 pilihan warna, yaitu merah, hitam, biru, hijau, putih dan pink dengan 2 jenis striping.
So, mampukah Nex si "Irit, Lincah, Gaya" mematahkan dominasi Mio dan Beat?
Desain lampu belakang, Spin banget...
Suzuki Nex "Irit, Lincah, Gaya"

Sabtu, 10 Desember 2011

Sistem AHO Sudahkah Cocok Diterap di Indonesia?

Sepeda motor mudah terpantau
 Peraturan lalu lintas yaitu UU nomor 22 tahun 2009 yang salah satu pasalnya mengatur tentang kewajiban pengendara sepeda motor untuk selalu menyalakan lampu utama sapanjang waktu, baik siang maupun malam masih menimbulkan pro dan kontra. Peraturan ini sejatinya dibuat guna menekan angka kecelakaan di jalan raya. Sepeda motor sebagai salah satu kendaraan terkecil di jalan raya seringkali tidak terlihat dengan jelas oleh pengendara lain maupun oleh pengemudi kendaraan roda 4 atau lebih. Apalagi kelakuan bikers yang sering "main" selap-selip di antara jejeran kendaraan besar, baik mobil pribadi maupun bis atau truk. Dengan dinyalakan lampu utama di siang hari maka akan lebih memudahkan pengendara lain maupun pengemudi mobil memantau keberadaan sepeda motor via pantulan sinar lampu di kaca spion. Jadi pantulan cahaya headlamp motor bakal lebih membuat pengendara lain maupun pengemudi mobil menjadi lebih waspada. Bagi pengendara yang tidak mematuhi peraturan tersebut maka bakal diganjar dengan sanksi denda maksimal 100ribu atau hukuman kurungan maksimal 15 hari seperti tercantum dalam pasal 107 ayat 2.
Motor terbaru sudah aplikasi AHO tidak dilengkapi saklar on-off
Oleh karena itu, maka pabrikan motor di tanah air mulai memberlakukan motor-motor yang diproduksi tanpa saklar on-off untuk lampu utama. Dengan kata lain, motor-motor keluaran terbaru dari pabrikan bakal mengaplikasi sistem AHO (Automatic Headlight On) yaitu lampu utama bakal langsung nyala setelah mesin dihidupkan. Pabrikan besar di tanah air yaitu Honda, Yamaha maupun Suzuki sudah mulai memproduksi motor-motor bersistem AHO.
Namun apakah "pemaksaan" peraturan lampu utama nyala siang dan malam bakal efektif mengurangi resiko kecelakaan di jalan raya? Rasanya hal tersebut masih jauh dari harapan jika melihat data maupun fakta di lapangan bahwa kecelakaan lalu lintas terutama yang melibatkan sepeda motor tetap saja meningkat. Menurut gue pribadi sich malah lebih efektif bila pihak terkait lebih mengutamakan untuk kampanye dan sosialisasi safety riding lewat pembentukan mental disiplin para pengendara maupun calon pengendara baik teori dan praktik  agar berkendara yang baik dan benar, serta memasukkan pendidikan safety riding ke dalam kurikulum pendidikan formal sejak dasar. Apabila mental pengendara sudah terdidik, terlatih dan terprogram dengan baik untuk berkendara dengan aman, nyaman dan safety dengan disiplin mematuhi segala peraturan lalu lintas dan secara sadar menggunakan safety gear maka bakal lebih efektif mengurangi resiko kecelakaan.
Pengaplikasian sistem AHO di tanah air menurut pikiran gue kurang realistis. Pemborosan umur bohlam dan usia pakai aki bakal menjadi "makanan" sehari-hari mayoritas bikers. Di tengah carut marutnya kondisi perekonomian di tanah air gue rasa makin menyusahkan rakyat bikers yang rata-rata dari kalangan menengah ke bawah. Mungkin untuk motor-motor terbaru maupun motor kelas premium hal tersebut bukanlah menjadi masalah karena rata-rata sudah mengadopsi teknologi AHO jadi telah didesain khusus sehingga awet. Namun bagi pemilik sepeda motor tahun-tahun lawas bakal menambah biaya perawatan maupun biaya upgrade yang cukup menguras kantong. Ditambah lagi rata-rata rakyat bikers yang berasal dari kalangan menengah ke bawah pastilah tinggal di daerah padat penduduk. Masak iya masuk ke kampung dengan jalan sempit, banyak orang nongkrong malah dengan "PD" (red: Percaya Diri)-nya berjalan dengan sorot lampu silau "menantang?" Apakah hal tersebut tidak bakal membuat salah paham orang lain. Apalagi jika kita cuma numpang lewat ke daerah itu, alias bukan penduduk kampung tersebut. Bisa-bisa kita dikira "nantang" atau berlagak sombong hanya demi patuh terhadap UU nomor 22 tahun 2009. Nyawa yang sangat berharga ini bisa jadi bakal melayang hanya kesalahpahaman semata. Kekhawatiran gue tersebut didasari karena dulu gue sering blusukan masuk ke kampung yang padat penduduk.  Eh ternyata rasa khawatir gue kejadian juga seperti kisah yang dimuat di blog bang Iwan Banaran.
Jadi kita bisa ambil hikmah bahwa setiap kebijakan pastilah ada konsekuensinya. Sebuah aturan yang telah dibuat dengan niat mulia harusnya tetap harus kita hargai dan hormati dengan tetap berusaha melaksanakan dengan sebaik-baiknya. Umpama kejadian seperti yang dikisahkan di blog bang Iwan Banaran terulang kembali maka itulah resiko dalam berbuat kebaikan. Namun apabila kita dengan ikhlas mematuhi aturan yang telah ada tersebut maka insya Allah kita selalu dalam lindungan yang Maha Kuasa, amin...